ALANGKAH INDAHNYA AGAMAKU

Mei 14, 2008

Adzan Maghrib berkumandang. Aku melangkah menuju mushalla memenuhi panggilan-Nya. Tepat di depan rumah tetangga sebelah yang dikontrakkan, seorang wanita paruh baya membuka pintu pagar. Dua tangannya mengangkat nampan bambu. Diatas nampan tersusun rapi beberapa wadah-wadah kecil terbuat dari anyaman janur kuning. Tubuh wanita itu atletis. Sekelebat aku berpikir wanita tersebut akan menghantarkan ketan kuning sebagaimana orang Aceh bila memiliki hajat tertentu seperti menempati rumah baru atau melahirkan anak. Semacam pemberitahuan kepada tetangga akan kehadiran warga baru di lingkungan tersebut.

Yang membuat aku terhenyak adalah bahwa wanita itu bukan orang Aceh, bukan wajah Indonesia. Wanita asing berkulit putih. WNA. Otakku bekerja cepat dengan berbagai prasangka melintas silih berganti. Orang barat mau melakukan tradisi masyarakat Aceh memperkenalkan diri ke tetangga dengan membagikan ketan kuning! Ketan itu diletakkan dalam wadah anyaman janur kuning. Indah sekali! Tidak seperti kebiasaan masyarakat Aceh yang cukup membungkus ketan kuning dengan daun pisang. Luar biasa wanita bule ini dalam menghargai tradisi budaya masyarakat setempat.

Aku menatap sepintas mencoba memberi senyuman sebagai isyarat perkenalan seorang tetangga. Namun dia tidak terusik dengan kehadiranku. Romannya tenang, asyik dengan apa yang dia lakukan. Membuka daun pintu pagar, berjalan miring agar nampannya tidak menabrak ujung pintu satunya yang masih tertutup.

Dia sudah diluar pagar sewaktu langkahku sudah melewati panjangnya pintu pagar. Rasa penasaran makin mengusik, aku menoleh ke belakang memastikan apa isi wadah yang indah dan kemana mau dibawa pada senja menjelang gelap ini. Oh… keduakalinya aku terperangah. Tepat di tengah pintu pagar di ujung daun pintu yang masih menutup dia merendahkan tubuhnya. Menekuk lutut, duduk setengah bersimpuh menempelkan ujung lutut ke tanah. Nampan ditaruh di tanah. Dipindahnya sebuah wadah, khusyu, pelan diletakan ke tanah. Isi wadah itu bukan ketan kuning. Sejumput mawar, melati dan beberapa bunga atau daun. Tangannya meraih semacam lidi. Dibakarnya ujungnya. Asap putih kecil membumbung ke atas tak terputus. Hio.

Kembali otakku bekerja cepat dan cepat sekali, berkelebat silih-berganti, seiring langkahku menuju mushalla. Di Aceh – wanita bule – upacara hindu – bule Bali – sembahyang – memuja sesuatu – orang Barat – rasional – sesaji – di Aceh dstnya.

Kembali aku menoleh. Wanita itu sudah menutup pintu pagarnya kembali. Kemana dia? Dimana wadah-wadah itu akan diletakkan? Didepan pintu utama, di garasi, belakang rumah, sudut-sudut rumah? Untuk menjaga rumah dan penghuninya dari gangguan? Agar sesuatu itu menjaganya?

Stereotip orang Barat itu rasional, materialistis, empiris. Sementara dia meyakini ada hubungan transendental antara yang real dengan yang mistis. Antara yang nyata dengan yang gaib. Antara manusia dengan sesuatu yang menguasainya. Relasi itu terhubung melalui mediasi janur, bunga, hio dan lokasi tertentu. Bagaimana manusia dapat menentukan media perantara yang tepat untuk menjalin hubungan dengan sesuatu tadi?

Aku sudah masuk mushalla. Ada keinginan menjumpai wanita itu. Kuajak menggunakan akal, diskusi. Mengapa ritualitas religi kepada yang tidak kasat mata-kulit-telinga, kepada penguasa alam-semesta harus melalui mediasi bunga, janur, hio dll?

Iqamah berkumandang, sholat maghrib berjamaah dimulai. Sebentar aku dapat konsentrasi dengan bacaanku, sebentar aku terusik fenomena tadi. Kucoba menkhusyulan sholat, otakku mengajak berfikir bagaimana cara menemui wanita tadi, memperkenalkan diri, membuka diskusi. Kutartilkan bacaan, kuresapkan makna-makna do’aku. Bertemu dia, berarti diskusi agama dalam bahasa Inggris? Lebih sulit dibanding dialog sehari-hari. Diskusi agama dalam bahasa Indonesia saja perlu mengatur kata dan kalimat yang tepat. Asyhaduallaa ilaaha illallah, aku masih sholat. Ya Allah ampuni aku.

Do’a sesudah sholat kupanjatkan, kulantunkan satu-satu. Tapi, bagaimana dalam diskusi nanti aku harus menyampaikan ayat-ayat Al-Quran dalam bahasa Inggris? Kasihan wanita rasionil tadi. Afalaa tadzakkaruun. Apa tidak menggunakan rasionya?

Ya Allah, agama yang Engkau turunkan sangat indah. Aku bisa langsung berkomunikasi dengan diri-MU. Tidak perlu perantara, tidak perlu lambang-lambang. Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. Ya Allah, tolonglah aku untuk tetap berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-MU dan untuk memperbagus ibadahku kepada-MU.

Sholat sunah rawatib aku kerjakan. Kembali dia berkelebat. Kalau aku bisa menjelaskan kepada wanita bule tentang Islam, ayat-ayat Al-Qur’an, dalam bahasa Inggris yang tepat, aku akan mengembalikan rasionalitasnya. Agamaku sangat rasional, sangat-sangat masuk akal. Attahiyatulillah. Washshalawaatu ……. Ya Allah aku sedang sholat, aku sedang menghadap kepada-MU. Khusyukan, khusyukkan ya Allah.

Melangkah kembali ke rumah.. Bayangan wanita itu melekat dalam sel-sel memoriku, mengganggu sholatku. Anehnya aku puas. Terbuka terang benderang. Agamaku sangat indah. Agamaku tidak mengenal perantara. Allah membuka pintu-Nya bagi siapa yang ingin berkomunikasi dengan diri-Nya. Silakan lakukan itu tanpa melalui perantara, tanpa melalui ulama, tanpa melalui kuburannya, tanpa melalui imam, ustad, bahkan tanpa melalui Rasul-Nya. Tidak.

Konon lagi harus melalui makhluk-Nya yang lain, dengan sesaji hewan, sesaji bunga, pohon, batu yang mereka itu derajatnya lebih rendah dari manusia. Mereka itu sebentar saja layu, kuning, kering dan mati kembali ke tanah. Dimakan binatang lain, diisap akar pohon yang lain. Begitu berulang-ulang. Indah sekali agama yang Engkau turunkan ya Allah. Mulia sekali syariat-syariat yang Engkau ciptakan untuk kami. Bahkan Engkau melarang kami untuk menghina sesembahan-sesembahan mereka.

WA LAA TASUBBULLADZIINA YAD’UUNA MINDUUNILLAHI FAYASUBBULLAHA ‘ADWAN BIGHAIRI ‘ILMIN.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah; karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” [AL-AN’AM 6:108]

Terimakasih ya Allah. Indah sekali semua ini.

Proses Kreatif Bermula Dari Penjara

Mei 5, 2008

Eksistensi Proses Kreatif Berawal Dari Penjara

Ya. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah berhenti mencari. Berakal, mampu berfikir, berkreasi. Sanggup mengolah bahan mentah menjadi bahan baru sesuai yang dibutuhkan. Berbeda dengan binatang, yang dari nenek moyangnya ya segitu gitu saja.

Proses berfikir timbul dari cetusan terhadap ketidakpuasan akan sesuatu. Tergantung seberapa mampu seseorang mengolah otak, akal, daya tanggap dan daya analis. Sarana yang sudah ada pada dirinya sendiri, pasti akan di-explore seberapa kesanggupan dia.

Proses kreatif bermula dari penjara, bukan berarti hanya ditujukan kepada orang-orang cerdas. Mereka yang memiliki daya nalar yang rendah, katakanlah ideot, orgil, akan memberi tanggapan baik berupa jeritan, gumaman dsbnya. Kreatifitas atas daya rangsang dari luar akan memicu sel-sel otak untuk memberikan tanggapan balik. Hasilnya tentu bergantung pada kemampuan internal masing-masing.

Proses kreatif bermula dari penjara. Karena itulah maka terjadi perubahan peradaban (berubah maju maupun mundur). Ketidakpuasan atas fasilitas yang dimiliki merupakan penjara. Jadi penjarakan dirimu untuk terus secara konsisten melatih daya nalar, daya pikir, merangsang otak serta reflek.

(Nulis apa seh…………………. capuek dech)

Hello world!

Mei 5, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.